Pencarian


Leaflet


Konservasi lahan temanggung
Pembibitan tembakau
Penyakit kerupuk/keriting
Penyakit lanas

Produk

I novasi teknologi yang paling strategis untuk mendukung pengembangan komoditas adalah varietas unggul. Penggunaan varietas unggul suatu komoditas mempunyai dampak yang sangat luas, antara lain dapat berpengaruh terhadap efisiensi biaya dalam budi daya, peningkatan produksi dan mutu, serta pemanfaatan lahan-lahan marginal, sehingga dapat berdampak sosial dan ekonomi yang cukup nyata bagi petani. Selain itu, penggunaan varietas unggul merupakan teknologi yang relatif mudah diterima dan diterapkan oleh petani.





Teknologi Budidaya

Teknologi budidaya pada tembakau dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis yang diantaranya adalah penangkaran benih, pesemaian, pemupukan, dan pemupukan bebas chlor. Selain itu, teknologi budidaya tembakau juga membahas mengenai penyakit-penyakit pada tembakau serta hama tembakau disertai cara pengendaliannya. Bagaimana proses panen, proses pasca panen, kesesuaian lahan, dan budidaya tembakau cerutu juga dibahas pada sub topik teknologi budidaya tembakau ini.


Agribisnis Tembakau

A gribisnis tembakau mempunyai peran yang strategis dalam perekonomian lokal dan nasional. Sebagai komoditas yang bernilai ekonomis tinggi, usaha tani tembakau dapat menyumbang pendapatan petani sekitar 40−80% dari total pendapatan. Sedangkan sebagai bahan baku utama rokok, peranan tembakau semakin menentukan dalam perkembangan industri rokok. Industri rokok telah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu industri prioritas nasional (Anonim 2010a), yang perkembangannya akan sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi nasional. Target penerimaan negara dari cukai yang telah ditetapkan untuk tahun 2010 sebesar Rp61 triliun dan tahun 2011 sebesar Rp71 triliun; sedangkan penerimaan devisa dari ekspor tembakau sebesar US$564 juta. Usaha tani tembakau dan industri yang terkait juga menyediakan lapangan kerja bagi kurang lebih 10 juta orang. Selain sebagai usaha tani primer, agribisnis tembakau sangat terkait dengan industri hulu dan industri hilir, yang semuanya bernilai ekonomi tinggi. Industri hulu yang sangat erat hubungannya antara lain adalah usaha pembibitan dan pembuatan pupuk kandang. Sedangkan industri hilir yang sangat menopang agribisnis tembakau antara lain adalah usaha kerajinan tikar, alas pengering tembakau rajangan, kerajinan tali, dan usaha tani cengkeh (Anonim 2010a).



Agribisnis Tembakau Virginia

Tembakau virginia juga disebut flue-cured virginia (FCV) atau bright tobacco sesuai dengan cara pengolahannya yang menggunakan aliran udara panas di dalam oven (curing-barn) dan menghasilkan kerosok yang berwarna lemon atau orange (Peedin 1999). Dalam perdagangan kerosok FCV ini sering disebut kerosok FC atau virginia FC. Di pasar internasional, tembakau virginia sebagian besar diperlukan untuk membuat rokok (sigaret), dan sebagian kecil dipergunakan untuk tembakau pipa serta untuk tembakau susur (chewing tobacco).


Prospek Nilai Ekonomi Tembakau Virginia

Tembakau virginia merupakan bahan baku rokok keretek dan rokok putih, sehingga perkembangannya di masa datang sangat dipengaruhi oleh perkembangan industri rokok. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan industri rokok berbahan baku tembakau virginia di masa depan antara lain adalah: (1) Gerakan antirokok, (2) Pasar tembakau virginia, dan (3) Perkembangan produksi dan areal yang dipengaruhi oleh varietas dan budi daya yang sesuai, permodalan petani, dan penyediaan bahan bakar untuk prosesing secara flue-cured. (Hal:171)


Pola Kemitraan dalam Agribisnis Tembakau Virginia

Berbagai permasalahan yang terkait dengan agribisnis tembakau telah menjadi perhatian pemerintah. Masih lebih banyak petani yang belum bekerja sama dengan perusahaan sehingga mengalami kesulitan dalam melaksanakan budi daya tembakau virginia secara baik. Pemerintah telah membantu petani melalui Program Intensifikasi Tembakau Virginia (ITV) mulai tahun 1979. Pemerintah berfungsi sebagai fasilitator dan menempatkan perusahaan rokok menjadi pengelola Program ITV. Bantuan pemerintah kepada petani berupa modal kerja dan sarana produksi berasal dari bank/lembaga keuangan yang ditunjuk dan dilewatkan para pengelola tersebut. Selanjutnya pengembalian pinjaman petani dilakukan melalui para pengelola. Dengan cara tersebut pengelola diposisikan sebagai penjamin dan bersifat avalis. (Hal:182)


×